Rhodoy R. Ediyansyah

Minggu, 21 Februari 2016

Melihat LGBT Dari Sisi Yang Berbeda

Selamat datang teman-teman, terimakasih sudah berkunjung di blog yang sederhana ini. Kali ini saya akan membahas tentang LGBT yang masih hangat diperbincangkan masyarakat. Seperti yang saya kutip dari Wikipedia, pengertian LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Sebenarnya istilah ini sudah digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa komunitas gay.

LGBT
LGBT
Terdapat banyak sekali kontraversi yang muncul dimasyarakat terkait dengan LGBT mulai dari masalah penyakit atau bukan, LGBT sebagai perusak moral, bahkan saya pribadi berpikir bahwa LGBT ini memang diciptakan oleh orang-orang yang ingin menekan pertumbuhan jumlah penduduk di dunia.

Jadi tidak heran jika Belanda merupakan Negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis sejak tahun 2001, kemudian disusul Belgia pada tahun 2003 dan hingga saat ini sudah 23 negara termasuk Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis. Karena itu merupakan sebuah program yang diterapkan untuk menekan laju pertumbuhan jumlah penduduk dinegaranya.

Apakah Negara kita Indonesia juga ingin menekan pertumbuhan jumlah penduduk? Sudah barang tentu, masih ingat dengan program Keluarga Berencana atau KB dengan selogan Dua Anak Cukup? Keluarga berencana atau KB) mulai dicanangkan pada tahun akhir 1970-an adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Tujuan dari program ini yang utama adalah untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk. Berikut tujuan Program KB yang dikutip dari Wikipedia:

Tujuan umum KB
Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk.

Tujuan khusus KB
    Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi.
    Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.
    Meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara penjarangan kelahiran

Kembali lagi ke Kontravesi LGBT khususnya di Indonesia, yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah mengapa masyarakat Indonesia disibukan dengan LGBT. Terutama analisis tentang LGBT merupakan sebuah penyakit atau bukan, bahkan sampai khawatiran masyarakat jika pemerintah Indonesia melegalkan pernikahan sejenis, yang seharusnya ada aksi dari masyarakat itu karena terdapat reaksi dari pemerintah. Sementara saya belum melihat adanya reaksi dari pemerintah terkait dengan hal ini, atau ini sudah dilakukan secara diam-diam?

Mengingat Negara kita Republik Indonesia menduduki urutan keempat dengan Jumlah Penduduk terbanyak diseluruh dunia 255.993.674 jiwa (sekitar 255 Juta jiwa)  atau sekitar 3,5% dari keseluruhan Jumlah Penduduk Dunia 7.256.490.011 jiwa (menurut CIA World Factbook Tahun 2015). Sedangkan program KB yang sudah dicanangkan sejak tahun 1970-an belum juga mampu menekan jumlah penduduk Indonesia. Hal yang bukan mustahil bagi pemerintah Indonesia untuk menyusul Amerika Serikat yang menduduki urutan ketiga Negara dengan jumlah penduduk terbanyak diseluruh dunia melegalkan pernikahan sejenis. Karena dengan legalnya LGBT sudah dibuktikan oleh negara Belanda yang mampu menstabilkan tingkat kelahiran bayi.

Selain itu juga sebagian orang berpendapat bahwa LGBT bukalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Pakar saraf, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, mengungkapkan, lesbian, gay, biseksual, dan transjender bukan suatu kelainan atau penyakit, melainkan merupakan sebuah variasi kehidupan.

"LGBT bukan penyakit. Dulu kita melihatnya sebagai kelainan, sekarang variasi kehidupan saja. Dalam biologi, enggak ada yang enggak normal. Semua hanya variasi," kata Ryu di Kantor LBH, Jakarta, Selasa (9/2/2016). (Kompas.com)

Artinya gay dan lesbi adalah manusia normal seperti halnya masyarakat biasa. Jika kita melihat dari pendapat ini LGBT juga memiliki hak untuk hidup tentram berdampingan dengan masyarakat pada umumnya. wajar apabila mereka menuntut untuk legalisasi pernikahan sejenis yang merupakan bagian dari kebutuhan hidup LGBT.

Tapi disisi lain juga sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa LGBT adalah penyakit sosial yang menular. Mulai dari Ormas Islam Muhammadiyah, Partai Keadilan Sejahtera bahkan seorang ahli Psikiater juga mengatakan bahwa Gay dan Lesbi itu penyakit. Berikut beberapa pernyataannya:

“Gay itu penyakit. Karena itu jangan ditolerir, tapi harus diobati. Bukannya melegalkan keinginan mereka, tapi kita berupaya mengarahkan orientasi seksual mereka,” Anwar Abbas Bendahara Umum PP Muhammadiyah. (republika.co.id)

PKS, kata Zubaedah (Kepala Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah), berpandangan bahwa LGBT adalah penyakit sosial yang menular, sehingga penting untuk mendampingi perilaku bermedia anak. (tempo.co)

Seorang psikiater Dr. Fidiansyah mengatakan, dalam sebuah buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) halaman 228 disebutkan homoseksual dan biseksual termasuk dalam gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual.

Jika merujuk pada 3 pendapat tersebut terutama pendapat psikiater Dr. Fidiansyah, kelompok LGBT tidak punya hak untuk menyuarakan legalitas pernikahan sejenis. Begitu juga pemerintah tidak punya alasan untuk melegalkannya, melainkan punya kewajiban untuk merencanakan pengobatan terhadap rakyatnya yang mengindap penyakit tersebut.

Diahir tulisan yang masih jauh dari sempurna ini saya tidak bisa menyimpulkan LGBT itu penyakita atau bukan karena saya bukan ahli dibidang itu. Tapi saya meyakini kelompok ini senghaja diciptakan Barat untuk menekan lonjaknya pertumbuhan penduduk dunia. Oleh karena itu yang harus kita waspadai khususnya yang tidak menginginkan perkembangan LGBT di Indonesia termasuk saya adalah tertularnya keluarga kita untuk mengikuti LGBT. Karena bukan hal yang tidak mungkin pengembangan klompok ini didanai oleh orang-orang kaya barat yang mendukung LGBT mengingat gay dan lesbi tidak bisa menghasilan keturunan. Termasuk juga pendanaan dalam proses untuk melegalkan pernikahan sejenis seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia.

Yang terahir saya minta kritik dan saran yang sifatnya membangun tulisan saya kedepannya. Jika anda seorang blogger yang belum berteman dengan rhodoy.com silahkan follow disini-> http://goo.gl/nZmkXk

16 komentar:

  1. Menurut pandangan ane sendiri mungkin berbeda dengan logika yang ada. Ya inilah tanda akhir jaman. Semua yang salah jadi nampak benar. Kalau jalannya tidak seperti ini maka akhir jaman juga tidak akan sampai. Kalau sudah tertata dengan adanya hal sedemikian ini menyelimuti dunia termasuk Indonesia. Ya sudah mau dikata apa. Tunggu skenario Tuhan yang lebih Indah lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sepakat dengan ente jika kita bica tentang rencana Tuhan, ini salah satu pertanda bahwa kiamat sudah dekat. He hee

      Hapus
  2. Wah tapi kalau indonesia me legalkan langsung pasang meme nothind to do here hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok bos, sebagai bentuk perlawanan secara halus terhadap LGBT.

      Hapus
  3. Keren Gan Blognya

    BalasHapus
  4. Menurut pakar psikologi UI, prof sarlito, LGBT ada dua macam, bawaan lahir karena kelainan biologis dan penyimpangan karena behaviour atau sering disebut LGBT gaul. LGBT jenis ini yang bisa menular karena pembiasaan sebagaimana disebut Dr. Ferdiansyah. Yang pertama tidak bisa disembuhkan hanya bisa ditekan, sedang kedua bisa disembuhkan. Apapun itu LGBT sama halnya sandal kanan semua, abnormal. Meskipun sebagai sesama manusia tidak boleh dilecehkan jika sebagai penyakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bos, intinya tidak ada hal positif dari LGBT

      Hapus
  5. Katanya ada rumor rumor di Indonesia mau dilegalkan bos? Jangan sampe dah, tkt aja kalo kena adzab dari Tuhan. Utk LGBT semua pihak harus saling berusaha untuk melakukan perlawanan terhadap LGBT agar tidak di legalkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali Om, bagaimana punjuga LGBT itu tidak ada nilai positifnya kecuali untuk menekan lonjakan pertumbuhan penduduk karena mereka tidak bisa menghasilkan keturunan.

      Hapus
  6. Ngos2an bacanya. Setuju sm kesimpulan Ms Rhodoy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacanya jangan sambil lari mba biar ga ngos2an. He hee

      Hapus
  7. Saya sendiri tak setuju dengan LGBT

    BalasHapus
  8. Yah Mau Apalagi, Akhir Zaman Udah Dekat Coy.
    Asal Kita Gak Macem-Macem.

    Slalu Menjalankan Perintah-Nya
    Dan Meninggalkan Larangan-Nya
    In Shaa Allah Selamat Dunia Akherat.

    TIDAK ADA AGAMA DI DUNIA YANG MENGAJARKAN LGBT - HANYA SEKELOMPOK ORANG YANG MENGHALALKAN LGBT 'KOMUNITAS'

    All Blogger ==> Follow Om Hadi Ya

    BalasHapus
  9. Menurut saya sih orang yang sudah berada di lingkungan LGBT jangan dibully, lebih baik ditemenin dan diajarkan lebih dalam tentang ilmu agama. Beberapa teman saya didunia malam ada yang begitu bahkan sampai ada yang bisexual loh...tapi tetep saya temenin sewajarnya saja.

    Kalau untuk LGBTnya saya pribadi tidak setuju untuk diresmikan. Kalo diresmikan, sudah lah tanda kiamat didepan mata.

    BalasHapus
  10. Official Wacana is Here!

    Wah ini nih yang jadi perbincangan hangat sekarang di Indonesia, LGBT. Menarik juga bisa dibandingkan dari berbagai sisi. Harus pintar menjaga diri dan lebih peduli kepada sesama sih sebenarnya hehe. Keep posting gan

    BalasHapus

Ingat boss sebelum berkomentar, baca ini dulu
1. Komentar yang relevan dengan tulisan
2. Dilarang live link, komentar yang terdapat link aktif report SPAM, link non aktif tidak akan dikunjungi balik.
3. Dilarang promosi dalam bentuk apapun
4. Dilarang berkomentar SARA, Po*n, J*di, dll
5. Apabila melanggar dihapus dan dilaporkan sebagai SPAM ke Google
6. Tidak perlu nulis link di komentar, yang sudah komentar akan saya kunjungi balik lewat profi google anda.
7. Komentar yang hanya seadanya seperti "Mantab Gan", "Nice Info", dll tidak akan dikunjungi balik.