Enter your keyword

Senin, 18 Juli 2016

Lupakan Cerita Seperti Ini Agar Tidak Menderitaan

Pernahkah anda berpikir penyebab mengapa anda merasa menderita terhadap suatu kejadian buruk yang pernah terjadi pada fisik anda meskipun hal buruk pada fisik anda sudah pulih dengan berobat. Kendati luka yang menghadang fisik anda sudah tidak bermasalah namun ada pikiran-pikiran yang membuat luka tersebut sulit pulih meski secara fisik luka yang anda miliki sudah tidak apa-apa. Semisal, ketika anda pulang kerja menuju rumah anda dengan sepeda motor kesayangan lalu ada yang mencegat anda untuk membegal seluruh yang anda miliki. Tidak ingin memberikan begitu saja kemudian anda diserang dengan sekali pelatuk tembakan oleh sang perampok. Anda terluka tidak di bagian vital dan beruntung masih dapat hidup dan kembali membeli sepeda motor di lain hari. Kemudian anda berpikir di waktu sebelum kejadian buruk itu datang dan menyalahkan diri anda. Anda berpikir seharusnya anda tidak melalui jalan gelap sepi itu dan seharusnya anda melewati jalan raya meski macet. Anda berpikir bahwa jika saja itu anda lakukan, tidak melalui jalan sepi tapi jalan raya ramai pasti kejadian buruk tersebut tak pernah datang kepada anda.
 
Agar Tidak Menderitaan
Ilustrasi Menderita
Ini yang dinamakan penderitaan batin. Ketika anda berpikir untuk melakukan hal-hal yang semestinya anda lakukan sebelum kejadian buruk yang telah terjadi maka luka yang anda miliki menjadi dua. Luka pertama adalah menciptakan rasa sakit terhadap tubuh atau fisik. Sakit tubuh akan segera sembuh ketika diatasi dengan obat. Luka pertama merupakan kenyataan kehidupan bahwa banyak hal-hal terjadi tanpa penyebab yang diketahui sebelumnya. Seperti seseorang yang makan-makanan secara teratur bisa tiba-tiba terjangkit penyakit berbahaya dari orang yang makan kurang. Inilah kenyataan kehidupan bahwa banyak hal dapat datang tanpa terduga.

Sementara itu luka kedua menciptakan kesakitan pada batin dan pikiran. Sakit batin akan terus kambuh bahkan ketika sakit pada tubuh sudah pulih, ini menciptakan penderitaan. Luka kedua merupakan sebuah cerita yang anda buat di dalam alam pikiran anda. Semua bentuk analisa dan penamaan ialah kerangka dari cerita tersebut. Kita semua sering menciptakan sebuah cerita yang tertanam untuk sebuah pengalaman, seperti menamainya pengalaman buruk. Apa yang telah kita namakan tersebut kemudian berlanjut terhadap analisa dan perkiraan yang terus menerus melahirkan penderitaan batin yang hebat.

Pengalaman buruk yang kita namai itu pada hakikatnya tidaklah alamiah melainkan bentukan sosial. Nama tersebut tak lain hanyalah penilaian kita sendiri atas suatu insiden yang datang. Sama hal dengan pengalaman haru, pengalaman untung, pengalaman depresi, bahkan pengalaman bahagia dan lainnya. Itu hanyalah penggambaran oleh pikiran kita sendiri. Penilaian-penilaian yang demikian kita tahu bahwa bukanlah sebuah kenyataan yang sebenarnya. Cohtoh dari analisis ini adalah bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang bervariasi dan ini tergantung kepada pola hidupnya. Semisal adalah kita berpemikiran berminum-minuman alkohol merupakan sebuah tindakan yang buruk yang dapat mendatangkan energi-energi negatif yang kemudian mempengaruhi tingkah laku menjadi tercela termasuk mengganggu kesehatan. Namun bagi sebagian kalangan menenggak alkohol adalah solusi demi menenangkan kegalauan pikiran dan menciptakan kebebasan juga menyenangkan. Perbedaan penilaian demikian tak lain datang atas dasar latar belakang yang tidak sama dari pada si penilai.

Di sini kita bisa paham bahwasanya pemberiaan nama bukanlah kenyataan, nama hanya suatu penilaian. Toh matahari tidak pernah berkenalan dengan siapapun untuk memberikan namanya, bukan?

Kenyataannya adalah ketika kita menciptakan sebuah nama bagi suatu pengalaman-pengalaman yang dimiliki maka kita telah mengawali menuliskan suatu cerita. Cerita adalah permulaan bagi analisa serta perkiraan yang berlebihan yang selanjutnya menjadi rangsangan dari penderitaan batin yang pada kenyataannya tidak harus datang. Penderitaan batin inilah yang akan melahirkan kekerasan yang entah bagi diri orang lain ataupun diri sendiri. Memang benar memberikan nama pada sesuatu sangat diperlukan untuk kita mengingat sesuatu tersebut dan memiliki ciri. Tetapi jika pemberian nama itu tidak dalam kondisi sadar maka akan terlahir sesuatu yang tidak rasional pula. Pemberiaan nama demikian pada dasarnya memiliki sifat yang relatif yakni dapat di lihat dari sudut manapun serta lemah dan bisa berganti kapanpun. Maka dari itu kita tidak bisa menamakan sesuatu lalu menganggapnya absolut.

Cerita hanyalah menghadirkan penderitaan yang akan mendera kehidupan kita itu sendiri. Cerita hadir akibat sebuah nama yang kita buat untuk menandai suatu peristiwa yang kita sendiri tidak dikondisikan dalam situasi kesadaran. Ketika anda menerima kenyataan bahwa anda terluka akibat peristiwa yang telah terjadi maka penamaan dalam keadaan tidak sadar tidak akan terjadi. Anda hanya akan terluka sekali dan itu memang kenyataan kehidupan yang di lain waktu bisa kembali dipulihkan apa yang hilang dari anda seperti kondisi fisik maupun barang. Sedangkan jika anda tidak menerima fakta bahwa itu sungguh sudah terjadi, maka anda diterpa dua luka yang di mana akan terus melekat di kehidupan sekalipun luka pertama sudah lama berlalu.

Yang terahir saya minta kritik dan saran yang sifatnya membangun tulisan saya kedepannya. Jika anda seorang blogger yang belum berteman dengan rhodoy.com silahkan follow disini-> http://goo.gl/nZmkXk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ingat boss sebelum berkomentar, baca ini dulu
1. Komentar yang relevan dengan tulisan
2. Dilarang live link, komentar yang terdapat link aktif report SPAM, link non aktif tidak akan dikunjungi balik.
3. Dilarang promosi dalam bentuk apapun
4. Dilarang berkomentar SARA, Po*n, J*di, dll
5. Apabila melanggar dihapus dan dilaporkan sebagai SPAM ke Google
6. Tidak perlu nulis link di komentar, yang sudah komentar akan saya kunjungi balik lewat profi google anda.
7. Komentar yang hanya seadanya seperti "Mantab Gan", "Nice Info", dll tidak akan dikunjungi balik.